Menu

Mode Gelap
Pemko Batam Perkuat Standar Pelayanan, Firmansyah: SOP Harus Permudah Masyarakat Cek Kesehatan Gratis Anak Sekolah Dimulai, Sasar 49.343 Siswa di Tanjungpinang Wawako Raja Ariza Hadiri High Level Meeting TPID Kepri, Dorong Penguatan Sinergi Pengendalian Inflasi BI Kepri: Ekonomi Kepulauan Riau Tahun 2026 Masih Berkinerja Positif Komunitas Arah Pikir dan Heritage Fragrance Hadirkan The Alchemist Summer Camp, Ruang Kebersamaan yang Satukan Berbagai Generasi Pelantikan Pengurus BEM Fakultas Hukum UPP Periode 2026–2027 “Menuju Organisasi yang Progresif dan Berkeadilan”

Batam

Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih

badge-check


					Di Tengah Perebutan Bisnis Air Batam, Warga Pulau Jaloh Berebut Setetes Air Bersih Perbesar

Maklumatkepri.com. Batam-Di saat polemik pengelolaan air bersih di Kota Batam terus bergulir dan proyek-proyek penyediaan air bernilai miliaran hingga triliunan rupiah terus dibangun, warga Pulau Jaloh, Kelurahan Pantai Gelam, Kecamatan Bulang, justru masih berjuang untuk mendapatkan kebutuhan paling mendasar, yakni air bersih.

Ironi itu terlihat nyata di pulau hinterland tersebut. Setiap hari, warga harus mengantre di sebuah sumur buatan yang debit airnya terus menyusut akibat musim kering.

Bahkan, untuk memperoleh beberapa jeriken air, mereka harus menunggu berjam-jam hingga mata air perlahan muncul dari dasar sumur.

Kondisi memprihatinkan itu diungkapkan Icam, seorang pendatang yang kerap beraktivitas di Pulau Jaloh.

Selama berada di pulau tersebut, ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat harus berjibaku memenuhi kebutuhan air untuk mandi, memasak, hingga keperluan rumah tangga.

“Saya melihat sendiri warga sangat kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus mengantre di sumur yang sekarang sudah mulai mengering,” kata Icam, Minggu (2/8/2026).

Ia bahkan memperlihatkan rekaman video yang menunjukkan dasar sumur sudah hampir kering. Air yang tersisa bercampur pasir sehingga warga tetap menggunakannya untuk mandi karena tidak memiliki pilihan lain.

Menurutnya, warga harus bersabar menunggu berjam-jam hingga rembesan air kembali memenuhi dasar sumur sebelum dapat ditimba sedikit demi sedikit.

Tak hanya sumur warga yang mengalami kekeringan. Waduk yang dibangun pemerintah di Pulau Jaloh juga disebut sudah mengering sehingga tidak lagi mampu menyuplai kebutuhan air masyarakat.

“Di sini warga kesulitan air bersih. Setidaknya pemerintah dapat membantu mengatasi permasalahan air bersih ini,” ujar Icam.

Ia mengaku selama berada di Pulau Jaloh bahkan hanya mandi sekali dalam sehari sebagai bentuk penghematan air, mengikuti kondisi yang dialami masyarakat setempat.

Mayoritas penduduk Pulau Jaloh menggantungkan hidup sebagai nelayan. Namun, di balik kekayaan laut yang menjadi sumber penghidupan mereka, akses terhadap air bersih justru menjadi persoalan yang belum terselesaikan.

Situasi ini memunculkan ironi besar. Di satu sisi, Kota Batam dikenal memiliki sejumlah waduk besar, berbagai proyek pengembangan infrastruktur air, hingga pembangunan instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) yang menelan anggaran besar.

Di sisi lain, warga di pulau-pulau hinterland seperti Pulau Jaloh masih harus menunggu rembesan air dari dasar sumur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Pulau Jaloh menjadi potret nyata ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pulau-pulau penyangga Kota Batam.

Ketika perdebatan mengenai pengelolaan air terus menjadi perhatian publik, masyarakat di pulau terluar justru masih bergulat dengan persoalan yang paling mendasar, memperoleh air untuk bertahan hidup.

Air bersih merupakan hak dasar setiap warga negara sekaligus layanan publik yang semestinya dipenuhi oleh pemerintah.

Karena itu, kondisi yang dialami masyarakat Pulau Jaloh tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan musiman semata, melainkan menjadi alarm bagi Pemerintah Kota Batam dan pemangku kepentingan terkait untuk segera menghadirkan solusi yang berkelanjutan.

Pembangunan infrastruktur air tidak hanya diukur dari besarnya investasi atau megahnya proyek yang dibangun, tetapi sejauh mana manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat, termasuk mereka yang tinggal di pulau-pulau hinterland yang selama ini kerap berada di pinggir perhatian.

Penulis : Nizamul Akhyar
Editor   : Redaksi

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pemko Batam Perkuat Standar Pelayanan, Firmansyah: SOP Harus Permudah Masyarakat

4 Agustus 2026 - 13:24 WIB

Kejaksaan Turun ke Sei Beduk, Pipa Berstatus Tak Jelas Diduga Ganggu Proyek Drainase Bernilai Rp15 Miliar

3 Agustus 2026 - 20:11 WIB

Ekonomi Batam Diproyeksikan Tumbuh hingga 7,4 Persen, Pemko Naikkan Target Pendapatan Daerah

3 Agustus 2026 - 15:55 WIB

Amsakar: Sekolah Harus Menjadi Ruang Aman bagi Anak untuk Tumbuh dan Berprestasi

3 Agustus 2026 - 15:42 WIB

LMB Kepri Kota Batam Gelar Kunjungan Kerja dan Rapat Kerja Laksamana Di Sekupang “Perkuat Hulubalang, Dubalang dan Satgas Menuju Organisasi yang Solid”

3 Agustus 2026 - 14:32 WIB

Trending di Batam