Amsakar Achmad Apresiasi Pertumbuhan Ekonomi Kepri 7,52 Persen, Batam Berkontribusi 66,63 Persen Gubernur Ansar Tinjau SPPG di Anambas, Pastikan Mutu dan Kualitas Gizi Makanan 3.100 Pelari Siap Ramaikan BTN Kepri MoonRun 2026, Budaya Lokal Jadi Daya Tarik Gubernur Ansar Agendakan Kunker ke Anambas, Tinjau SPPG dan Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat hingga Peresmian Pelantar HDPE Buka Jambore PKK Batam 2026, Amsakar Ajak Kader Perkuat Soliditas dan Pemberdayaan Keluarga Pemko Batam Lindungi Data Pribadi dalam Layanan Publik Digital

Kepulauan Riau

Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun

badge-check


					Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun Perbesar

MaklumatKepri.com, Anambas-Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Kepulauan Anambas kembali menjalankan tradisi turun-temurun di Air Terjun Temburun. Tradisi ini ditandai dengan berendam di air mengalir dan makan bersama keluarga sebagai simbol penyucian diri.

Beberapa hari sebelum Ramadhan, warga mulai berdatangan ke lokasi air terjun yang dikenal dengan undakan batu bertingkat dan airnya yang jernih. Mereka membawa bekal makanan, tikar, serta perlengkapan sederhana untuk berkumpul bersama keluarga maupun kerabat.

Berendam di air terjun menjadi inti tradisi tersebut. Air yang mengalir dimaknai sebagai simbol membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Suasana penuh keakraban terasa ketika warga berendam bersama. Di sela aktivitas itu, mereka memanjatkan doa agar diberi kekuatan dan kelancaran menjalani ibadah puasa.

Usai berendam, warga melanjutkan tradisi dengan membakar ikan di sekitar lokasi air terjun. Kegiatan ini tidak sekadar makan bersama, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol membakar kesalahan masa lalu dan memulai lembaran baru.

Tokoh masyarakat setempat, Bagas Apriboy, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan terus dijaga hingga kini.

“Tradisi ini sudah ada sejak dulu, diwariskan turun-temurun. Biasanya warga dari berbagai pulau datang untuk menjalankannya,” ujarnya, Minggu (15/2).

Ia menjelaskan, puncak tradisi biasanya berlangsung sehari sebelum Ramadhan. Namun, sebagian warga kini menyesuaikan waktu pelaksanaan karena faktor kesibukan dan jarak tempuh.

Meski demikian, makna tradisi tetap terjaga, yakni sebagai momentum membersihkan diri dan mempererat silaturahmi.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Anambas, sekaligus pengingat akan nilai spiritual dalam menyambut Ramadhan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gubernur Ansar Tinjau SPPG di Anambas, Pastikan Mutu dan Kualitas Gizi Makanan

7 November 2026 - 19:23 WIB

3.100 Pelari Siap Ramaikan BTN Kepri MoonRun 2026, Budaya Lokal Jadi Daya Tarik

7 November 2026 - 19:17 WIB

Gubernur Ansar Agendakan Kunker ke Anambas, Tinjau SPPG dan Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat hingga Peresmian Pelantar HDPE

7 November 2026 - 19:13 WIB

Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri

5 November 2026 - 03:08 WIB

Lintas Sektor di Kepri Gelar Rapat Persiapan Hadapi Puncak Musim Hujan dan Dampak Perubahan Iklim

5 November 2026 - 03:01 WIB

Trending di Kepulauan Riau