Tuan Rumah Tanjungpinang Raih Emas, Perak dan Perunggu pada Cabor Panjat Tebing Porprov VI Kepri Dirjen Otda Siap Fasilitasi Usulan Pembangunan Embung ke Kementerian PU Dandim 0315/Tanjungpinang Silaturahmi, Wali Kota Lis Harapkan Sinergi Terus Terjalin Wali Kota Lis: Kemitraan REI dan Pemda Buka Peluang Investasi di Tanjungpinang Pemko Siapkan Senggarang dan Kampung Bugis Jadi Pusat Ekonomi Baru Mulai 2027 Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri

Kepri

Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun

badge-check


					Tradisi Unik Anambas: Berendam dan Bakar Ikan Jelang Ramadhan di Air Terjun Temburun Perbesar

MaklumatKepri.com, Anambas-Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Kepulauan Anambas kembali menjalankan tradisi turun-temurun di Air Terjun Temburun. Tradisi ini ditandai dengan berendam di air mengalir dan makan bersama keluarga sebagai simbol penyucian diri.

Beberapa hari sebelum Ramadhan, warga mulai berdatangan ke lokasi air terjun yang dikenal dengan undakan batu bertingkat dan airnya yang jernih. Mereka membawa bekal makanan, tikar, serta perlengkapan sederhana untuk berkumpul bersama keluarga maupun kerabat.

Berendam di air terjun menjadi inti tradisi tersebut. Air yang mengalir dimaknai sebagai simbol membersihkan diri, baik secara lahir maupun batin, sebelum memasuki bulan penuh ampunan.

Suasana penuh keakraban terasa ketika warga berendam bersama. Di sela aktivitas itu, mereka memanjatkan doa agar diberi kekuatan dan kelancaran menjalani ibadah puasa.

Usai berendam, warga melanjutkan tradisi dengan membakar ikan di sekitar lokasi air terjun. Kegiatan ini tidak sekadar makan bersama, tetapi juga memiliki makna filosofis sebagai simbol membakar kesalahan masa lalu dan memulai lembaran baru.

Tokoh masyarakat setempat, Bagas Apriboy, mengatakan tradisi tersebut telah berlangsung sejak lama dan terus dijaga hingga kini.

“Tradisi ini sudah ada sejak dulu, diwariskan turun-temurun. Biasanya warga dari berbagai pulau datang untuk menjalankannya,” ujarnya, Minggu (15/2).

Ia menjelaskan, puncak tradisi biasanya berlangsung sehari sebelum Ramadhan. Namun, sebagian warga kini menyesuaikan waktu pelaksanaan karena faktor kesibukan dan jarak tempuh.

Meski demikian, makna tradisi tetap terjaga, yakni sebagai momentum membersihkan diri dan mempererat silaturahmi.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi ini tetap menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Anambas, sekaligus pengingat akan nilai spiritual dalam menyambut Ramadhan.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Sekdaprov Misni Hadiri MUSDA IV LVRI dan MUSDA PD PIVERI Kepri

5 November 2026 - 03:08 WIB

Lintas Sektor di Kepri Gelar Rapat Persiapan Hadapi Puncak Musim Hujan dan Dampak Perubahan Iklim

5 November 2026 - 03:01 WIB

Ansar Ahmad Hadiri Pelantikan DPD Pengajian Al-Hidayah Kepri, Dewi Ansar Pimpin Periode 2025-2030

2 November 2026 - 18:11 WIB

Porprov VI Kepri 2026 Dimulai, Ajang Lahirnya Atlet Berprestasi di Tingkat Nasional

2 November 2026 - 18:07 WIB

Wagub Nyanyang Harapkan IKAL Lemhannas Jadi Mitra Strategis Perkuat Ketahanan Kepri

31 Oktober 2026 - 23:45 WIB

Trending di Kepri