PB PII Sampaikan Keprihatinan atas Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo MA Kabulkan Kasasi, Suket Penyetaraan SMA Gibran Dinyatakan Tidak Sah Kecamatan Sagulung Ukir Prestasi, Raih IPP 4,20 Kategori A dan Puncaki Penilaian Pelayanan Publik Se-Kota Batam 2026 Wawako Raja Ariza Ajak Warga Kampung Bugis Cegah Narkoba Harga Pangan Berbeda Antarkios, Ini Penyebabnya Karang Taruna Kota Batam: Peringati Hari Sumpah Pemuda Ke-98, Ketua Karang Taruna Kota Batam Ajak Pemuda Bersatu, Berkarya dan Berjaya Untuk Kemajuan Batam

News

Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal

badge-check


					Prabowo Subianto Umumkan Pemotongan Anggaran untuk Efisiensi Fiskal Perbesar

MaklumatKepri.Com, Jakarta-Presiden Prabowo Subianto mengumumkan langkah pemotongan anggaran di berbagai kementerian dan lembaga untuk meningkatkan efisiensi fiskal dan menutup celah penyalahgunaan dana negara. Langkah ini diumumkan dalam pernyataan video yang dirilis oleh Sekretariat Presiden di Jakarta pada Kamis.

Dalam inisiatif awal untuk meningkatkan efisiensi, Prabowo menyebutkan bahwa pemerintah berhasil menghemat Rp. 308 triliun dari anggaran pemerintah pusat.

“Penghematan ini berasal dari pengeluaran yang tidak masuk akal. Jika tidak dipotong, dana tersebut berpotensi besar mengarah pada korupsi,” ujar Prabowo.

Penghematan Rp. 308 triliun tersebut berasal dari tinjauan awal terhadap pengeluaran pemerintah pusat, yang bertujuan mengidentifikasi alokasi yang tidak efisien dan tidak diperlukan. Prabowo memperingatkan bahwa jika dana tersebut tidak dikendalikan, maka akan membebani keuangan negara tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Prabowo juga menyoroti Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia yang tinggi, saat ini di angka 6,5, jauh di atas negara-negara tetangga. Menurutnya, ICOR yang tinggi ini mencerminkan ketidakefisienan sekitar 30 persen, setara dengan sekitar US$75 miliar dari anggaran negara yang mendekati Rp. 3.700 triliun.

Pemotongan Anggaran dan Efisiensi

Pemotongan anggaran menargetkan pengeluaran seperti acara seremonial, perlengkapan kantor, serta pertemuan dan seminar di luar kantor, yang menurut Prabowo sering kali gagal mengatasi isu inti seperti pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga meninjau praktik pengadaan rutin, termasuk pembelian komputer dan peralatan kantor yang sering dilakukan setiap tahun.

Prabowo menekankan bahwa penghematan substansial masih mungkin dilakukan dengan memperketat pengawasan terhadap pengeluaran non-esensial di seluruh lembaga pemerintah. Sebagai langkah tambahan untuk mengurangi biaya operasional, pemerintah mempertimbangkan pengaturan kerja baru, termasuk minggu kerja yang lebih pendek dan adopsi kerja jarak jauh yang lebih luas.

“Saya melihat negara lain mengurangi minggu kerja dari lima hari menjadi empat, seperti Filipina dan Pakistan. Kemudian ada kerja dari rumah. Selama COVID, kita berhasil melaksanakannya dengan baik. Saya pikir kita bisa melakukannya lagi. Mungkin 75 persen pegawai bisa bekerja dari rumah,” kata Prabowo.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

PB PII Sampaikan Keprihatinan atas Dugaan Intimidasi Santriwati di Sukoharjo

31 Oktober 2026 - 00:44 WIB

MA Kabulkan Kasasi, Suket Penyetaraan SMA Gibran Dinyatakan Tidak Sah

30 Oktober 2026 - 21:16 WIB

Logo HUT IPA ke-73 Resmi Diluncurkan, Usung Tema “Meneguhkan Cita Mulia Pelajar Al Washliyah untuk Kemajuan Bangsa”

30 Oktober 2026 - 12:47 WIB

10 Tahun Diperjuangkan, Gas Natuna Kini Resmi Kembali ke Pangkuan Ibu Pertiwi

29 Oktober 2026 - 02:52 WIB

Operasi Patuh 2026, Polri Ajak Masyarakat Jadikan Keselamatan sebagai Kebiasaan

29 Oktober 2026 - 00:35 WIB

Trending di Nasional