Oleh: Drs.H. Buralimar, M.Si
Sepak bola adalah bahasa jiwa yang paling jujur. Di dalam stadion, pangkat luruh, jabatan menghilang, sekat sosial runtuh, dan yang tersisa hanyalah detak jantung ribuan manusia yang berdegup bersama mengikuti gerak si kulit bundar. Bagi Riau, detak itu bernama PSPS Pekanbaru. Lahir pada 1 Januari 1955, PSPS bukan sekadar sebelas pemain yang mengejar kemenangan di atas rumput hijau. Ia adalah marwah, harga diri, sejarah, dan simbol kebanggaan yang telah mengalir bersama denyut kehidupan masyarakat Riau. Ia adalah Askar Bertuah, Sang Tapir Sumatra, yang namanya pernah menggetarkan stadion-stadion sepak bola di negeri ini.

Namun sejarah tidak selalu ditulis dengan tinta emas. Ada masa ketika sejarah PSPS ditulis dengan keringat, luka, air mata, dan keberanian. Stadion Kaharuddin Nasution Rumbai pernah menjadi benteng yang sulit ditaklukkan. Ketika genderang Derby Sumatra ditabuh dan PSPS berhadapan dengan PSMS Medan atau Semen Padang, atmosfer Rumbai berubah menjadi medan pertarungan yang membakar semangat. Setiap tekel terasa seperti sumpah, setiap duel menjadi harga diri, dan setiap gol disambut seperti kemenangan sebuah negeri. Itu bukan sekadar pertandingan untuk merebut tiga angka. Itu adalah pertarungan gengsi, kehormatan, dan supremasi sepak bola Sumatra.
Kini zaman telah berubah. Rival-rival yang dahulu berdiri sejajar dengan PSPS mulai mengetuk kembali pintu kasta tertinggi. Sementara itu, PSPS masih berjuang di Liga 2, seolah menjadi penjaga setia sebuah museum kejayaan masa lalu. Kita masih sering membicarakan Los Galacticos 1999, tentang pemain-pemain hebat dan masa ketika nama PSPS begitu disegani. Nostalgia memang indah, tetapi sejarah tidak pernah meminta sebuah klub hidup selamanya dari kenangan. Sepak bola adalah perjalanan. Yang kemarin adalah kebanggaan, tetapi yang besok harus menjadi perjuangan. PSPS tidak boleh hanya dikenang; PSPS harus kembali diperhitungkan.
Ironi terbesar justru tumbuh dari tanah yang dianugerahi kekayaan luar biasa. Di bawah kaki kita minyak mengalir, di hamparan bumi sawit menghijau, di kawasan industri dan perdagangan aktivitas ekonomi berdenyut siang dan malam. Riau adalah salah satu lumbung energi dan perkebunan penting negeri ini. Tetapi mengapa klub kebanggaan daerah harus masih berjalan dengan proposal dari satu pintu ke pintu lainnya? Mengapa biaya perjalanan tandang harus dihitung dengan napas panjang, sementara nilai ekonomi yang berputar di tanah ini begitu besar? Jangan sampai kita menjadi bangsa yang pandai menghitung hasil bumi, tetapi gagap menghitung nilai kebanggaan.
Di sinilah tanggung jawab kolektif harus dibangunkan kembali. Pemerintah memang tidak boleh menggunakan anggaran daerah untuk membiayai klub profesional secara langsung. Tetapi pemerintah dapat dan harus menciptakan ekosistem yang sehat, mempertemukan klub dengan dunia usaha, membuka ruang kolaborasi, mempermudah pemanfaatan fasilitas, serta menjadi jembatan yang mempertemukan potensi ekonomi daerah dengan industri olahraga. Sebab PSPS bukan sekadar urusan manajemen klub. Ia adalah bagian dari wajah Riau. Kalau pemerintah mampu memperjuangkan investasi, pariwisata, perdagangan dan industri, mengapa perjuangan membangun industri sepak bola harus dibiarkan berjalan sendirian?
Korporasi pun tidak boleh memandang PSPS hanya sebagai tempat menempelkan logo di papan iklan. Sponsorship seharusnya menjadi bagian dari investasi sosial, budaya, dan ekonomi daerah. Sepak bola memiliki daya jangkau yang luar biasa: menyatukan generasi, menggerakkan ekonomi kecil, menghidupkan stadion, membangun identitas kota, bahkan menjadi pintu promosi daerah ke tingkat nasional. Karena itu, perusahaan-perusahaan besar yang tumbuh dan menikmati denyut ekonomi Riau layak ikut berdiri di belakang PSPS. Bukan karena belas kasihan, melainkan karena ada kepentingan bersama untuk membangun ekosistem olahraga yang sehat, profesional, dan berkelanjutan.
Di tengah segala keterbatasan itu, masih ada tangan-tangan yang memilih bekerja ketika banyak orang hanya pandai berbicara. Kehadiran I Gede Widiade dan PSF Group dalam membangun tata kelola profesional patut diapresiasi. Demikian pula Presiden Klub Effendi Syahputra dan CEO Edward Riansyah yang berada di garis depan menghadapi berbagai persoalan dan menjaga kapal PSPS tetap bergerak. Dukungan sponsor seperti Awal Bros dan BRK Syariah juga menunjukkan bahwa harapan belum padam. Mereka mungkin belum mampu mengubah seluruh keadaan dalam sekejap, tetapi setidaknya mereka telah membuktikan satu hal: PSPS masih memiliki orang-orang yang percaya bahwa kejayaan tidak datang dari keluhan, melainkan dari keberanian membangun.
Tetapi pahlawan sepak bola tidak selalu berdiri di ruang rapat. Mereka sering kali berdiri di tribun, membawa syal, bernyanyi dengan suara serak, dan pulang dengan hati yang tetap setia meski hasil pertandingan tidak sesuai harapan. Asykar Theking adalah bagian dari denyut itu. Mereka hadir ketika hujan turun, ketika kemenangan datang, bahkan ketika kekalahan membuat dada sesak. Mereka tidak memiliki kontrak, tidak menerima bonus kemenangan, dan tidak membutuhkan panggung kehormatan. Cinta mereka kepada PSPS tumbuh tanpa syarat. Ketika sebagian orang datang karena kepentingan, mereka datang karena kecintaan.
Karena itu, sudah waktunya seluruh elemen Riau berhenti memperlakukan PSPS sebagai cerita sedih yang hanya dibicarakan ketika musim kompetisi dimulai. PSPS membutuhkan visi besar, manajemen profesional, pembinaan usia muda yang berkelanjutan, dukungan sponsor yang sehat, fasilitas yang layak, tata kelola stadion yang produktif, serta ekosistem bisnis olahraga yang mampu membuat klub berdiri dengan kaki sendiri. Target kembali ke Liga 1 bukan mimpi muluk. Itu adalah bagian dari perjalanan sejarah yang harus diperjuangkan dengan perencanaan, kerja keras, disiplin, dan keberanian mengambil keputusan.
Riau membutuhkan satu barisan besar. Gubernur, wali kota, pemerintah daerah, dunia usaha, BUMN, BUMD, pengusaha sawit, pelaku industri, akademisi, media, legenda sepak bola, komunitas, hingga suporter harus menemukan titik temu: bagaimana membuat PSPS menjadi kekuatan olahraga sekaligus kekuatan ekonomi dan kebanggaan daerah. Jangan lagi ada jarak antara pemerintah dan klub, antara korporasi dan olahraga, antara stadion dan masyarakat. Stadion Kaharuddin Nasution harus kembali menjadi rumah sepak bola Riau, bukan sekadar bangunan yang berdiri menunggu hari pertandingan.
Sebab pada akhirnya, PSPS bukan hanya tentang sebelas pemain yang mengenakan jersey. PSPS adalah tentang Riau yang ingin berdiri tegak di hadapan Indonesia. Ia adalah cerita tentang keberanian, persaudaraan, identitas, dan harga diri. Minyak boleh terus mengalir, sawit boleh terus menghijau, industri boleh terus tumbuh, tetapi jangan sampai kebanggaan sepak bola justru mengering di tanah sendiri. Jangan biarkan Askar Bertuah kehilangan tuahnya. Jika Sang Tapir Sumatra masih ingin berlari, maka Riau harus membuka jalan. Bukan dengan belas kasihan, bukan dengan seremoni, bukan dengan tepuk tangan sesaat, tetapi dengan keberanian, kolaborasi, dan kerja nyata. Karena PSPS bukan masa lalu yang harus dikenang. PSPS adalah masa depan Riau yang harus diperjuangkan.
Penulis adalah
1. Ketua BWI Kota Batam
2. Wakil Ketua I ASPPI Kepri
3. Mantan Kadispar Kepri












