Menu

Mode Gelap
Enam Murid MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Ikuti OMI Tahun 2026 HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET ISIM Audiensi dengan Kemenpora RI, Dorong Kolaborasi Penguatan Karakter Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045 Musda Perisai Demokrasi Bangsa Kota Jambi resmi di gelar, Terapkan One Man One Vote, M Zein Albi Anwar Firdaus Terpilih sebagai Formateur https://faktabatamnews.com/2026/kepri/batam/memperkuat-perlindungan-konsumen-komisi-ii-dprd-kepri-lakukan-kunjungan-kerja-dan-dukung-penuh-program-bpsk-kota-batam/ Bupati Bireuen H. Mukhlis Bertemu Menteri Sosial, Bahas Percepatan Penyaluran Jadup bagi Masyarakat Terdampak Banjir

Opini

HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET

badge-check


					HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET Perbesar

Oleh: Drs. Buralimar, M.Si.

Setiap 9 September kita kembali berdiri di podium yang sama. Lagu dikumandangkan, bendera dibentangkan, pidato disampaikan, dan berbagai kegiatan digelar untuk memperingati Hari Olahraga Nasional. Namun, Haornas tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia harus menjadi alarm kebangsaan, pengingat bahwa olahraga bukan sekadar pertandingan dan medali, melainkan bagian dari pembentukan manusia, karakter, kesehatan, prestasi, dan martabat bangsa. Karena itu, sudah waktunya Haornas tidak hanya dirayakan, tetapi dijadikan momentum untuk berbenah secara nyata.

Olahraga Indonesia memiliki banyak ruang, cabang, organisasi, dan talenta. Di dalamnya ada KORMI yang menggerakkan olahraga masyarakat sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari; KONI yang berperan dalam pembinaan olahraga prestasi; serta KOI yang membawa perjuangan olahraga Indonesia menuju panggung Olimpiade dan dunia. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, tetapi tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri atau saling meniadakan.

KORMI, KONI, dan KOI sesungguhnya adalah bagian dari satu tubuh besar olahraga Indonesia. Olahraga masyarakat membangun budaya kebugaran dan partisipasi, olahraga prestasi menemukan dan mengasah talenta, sementara jalur olimpik membuka jalan bagi atlet terbaik mengibarkan Merah Putih di panggung dunia. Garuda tidak akan terbang tinggi dengan satu sayap. Prestasi atlet dan budaya olahraga masyarakat harus tumbuh bersama.

Pembinaan juga tidak boleh berhenti di pusat atau tingkat provinsi dan kabupaten/kota. Akar olahraga justru tumbuh di sekolah, klub, komunitas, desa, kelurahan, kecamatan, dan lapangan-lapangan sederhana. Di sanalah anak-anak pertama kali berlari, menendang bola, memukul raket, berenang, bertarung, atau mengenal disiplin latihan. Seorang juara dunia tidak muncul tiba-tiba di podium. Ia lahir dari proses panjang: ditemukan, dibimbing, diberi kesempatan bertanding, lalu dibina secara berkelanjutan dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga.

Karena itu, pemerintah, khususnya Kementerian Pemuda dan Olahraga bersama pemerintah daerah, harus menjadi dirigen dalam orkestra besar keolahragaan nasional. Regulasi harus jelas, anggaran berkelanjutan, sarana-prasarana tersedia dan terawat, kompetisi berjenjang, pelatih mendapat perhatian dan peningkatan kompetensi, serta kesejahteraan dan masa depan atlet menjadi bagian penting dari kebijakan. Pemerintah tidak harus mengambil semua posisi, tetapi wajib memastikan semua pemain bergerak dalam irama yang sama.

Mengurus olahraga juga bukan sekadar mengelola jabatan, membuat kepengurusan, rapat, atau tampil dalam seremoni. Ia adalah seni mengelola manusia, membaca potensi, menyusun strategi, merawat hubungan, menyelesaikan perbedaan, dan mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Seorang pengurus olahraga seharusnya menjadi nakhoda yang tenang ketika gelombang meninggi, bukan justru memperbesar gelombang karena ego dan kepentingan kelompok.

Penyakit merasa paling benar, paling berkuasa, atau paling berjasa harus perlahan ditinggalkan. Tidak ada organisasi olahraga yang dapat bekerja sendirian. KONI, KORMI, KOI, cabang olahraga, pemerintah, sekolah, klub, komunitas, dunia usaha, perguruan tinggi, media, dan masyarakat memiliki ruang masing-masing dalam ekosistem olahraga. Perbedaan kepentingan tidak boleh membuat atlet menjadi korban.

Atlet harus ditempatkan sebagai pusat dari seluruh kebijakan dan perjuangan olahraga. Jangan sampai energi organisasi habis untuk perebutan kewenangan, sementara atlet masih mencari tempat latihan, kompetisi tersendat, pelatih berjuang dengan keterbatasan, dan masa depan atlet belum memiliki kepastian. Masyarakat tidak terlalu membutuhkan pertunjukan konflik di ruang kepengurusan. Mereka ingin melihat atlet mendapat kesempatan terbaik untuk berlatih, bertanding, berkembang, berprestasi, dan memiliki kehidupan yang layak setelah masa keatletannya berakhir. Medali memang penting, tetapi manusia yang berada di balik medali jauh lebih penting.

Olahraga juga membutuhkan kritik dan partisipasi masyarakat. Suara penonton, pencinta olahraga, supporter, komunitas, bahkan mereka yang setia berada di tribun dalam hujan dan panas, jangan dianggap sebagai gangguan. Kritik yang membangun adalah cermin bagi pengurus dan pemerintah untuk melihat kekurangan yang mungkin luput dari ruang rapat. Stadion yang penuh sorak bukan sekadar tempat menyaksikan pertandingan; ia adalah ruang sosial tempat harapan rakyat bertemu dengan perjuangan atlet.

Haornas 2026 semestinya menjadi momentum untuk menyusun kembali arah olahraga Indonesia secara terukur dan berkelanjutan. Bangun sistem pendataan talenta sejak tingkat paling bawah. Pastikan kompetisi berjalan rutin dan berjenjang. Perkuat kualitas dan kesejahteraan pelatih. Integrasikan sport science, sport medicine, teknologi, pendidikan, dan pembinaan karakter. Bangun komunikasi yang sehat antara seluruh pemangku kepentingan, bukan untuk mempertahankan wilayah masing-masing, tetapi untuk mencari jalan terbaik bagi atlet dan masa depan olahraga Indonesia.

Pada akhirnya, olahraga adalah seni mengubah tubuh menjadi kekuatan, disiplin menjadi karakter, keringat menjadi prestasi, dan perjuangan menjadi sejarah. Haornas jangan hanya menjadi tanggal yang setiap tahun ditandai dengan upacara dan seremoni. Jadikan 9 September sebagai titik evaluasi sekaligus titik balik. Jika semua pemangku kepentingan bekerja serius, profesional, kolektif, dan kolaboratif, atlet tidak lagi tumbuh karena kebetulan, melainkan karena sistem yang menemukan, membina, melindungi, dan mengantarkan mereka menuju prestasi. Ketika Merah Putih berkibar di podium dunia, yang berdiri di sana bukan hanya seorang atlet, melainkan seluruh bangsa yang telah bekerja bersama di belakangnya.

Salam Olahraga!

Batam, 9/9/26
Penulis adalah
1. Ketua BWI Kota Batam
2. Wakil Ketua I ASPPI Kepri
3. Mantan Kadispar Kepri

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Guru, Pendidik Ruhani Murid

9 September 2026 - 08:39 WIB

FKDT dan Masa Depan Pendidikan Keagamaan di Indonesia

9 September 2026 - 08:35 WIB

FKDT dan Pergerakan Komunitas Pendidikan Keagamaan Menuju Indonesia Hebat

9 September 2026 - 08:32 WIB

Musda KAHMI Batam: Haruskah Selalu Amsakar?

8 September 2026 - 22:07 WIB

KETEGASAN YANG TIDAK MEMBUAT LUKA

8 September 2026 - 20:19 WIB

Trending di Opini