Oleh: Andriansyah Sinaga
Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) KAHMI Kota Batam, ada satu hal yang menurut saya penting untuk kita renungkan bersama sebagai alumni HMI. Musda jangan hanya dipandang sebagai agenda untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua, tetapi harus menjadi momentum untuk melihat kembali kebutuhan organisasi dan siapa yang paling siap membawa KAHMI Batam ke depan.

Nama Amsakar Achmad tentu tidak bisa dilepaskan dari perjalanan KAHMI Batam. Selama kurang lebih lima tahun, beliau telah memimpin dan memberikan kontribusi bagi organisasi. Apa yang sudah dilakukan tentu patut kita hargai dan apresiasi.
Namun, Musda kali ini menurut saya harus dilihat dengan cara yang lebih objektif.
Kita perlu mendengarkan juga apa yang disampaikan Amsakar sendiri. Beliau secara terbuka mengatakan bahwa kesibukannya sebagai Wali Kota Batam membuat waktunya cukup terbatas untuk mengurus organisasi. Bahkan beliau menyampaikan, jika ada sosok lain yang lebih representatif, lebih siap dan memiliki waktu lebih banyak untuk menjalankan roda organisasi, maka beliau mempersilakan untuk maju.
Menurut saya, pernyataan itu jangan kita abaikan.
Jangan sampai justru kita sebagai alumni yang kemudian memaksakan Amsakar untuk kembali menjadi Ketua KAHMI Batam, sementara beliau sendiri sudah membuka ruang bagi kader atau alumni lain untuk tampil.
Pertanyaannya sederhana: Haruskah selalu Amsakar?
Kalau setiap kali Musda kita hanya berpikir, “Kalau bukan Amsakar, siapa lagi?”, maka secara tidak langsung kita sedang mengatakan bahwa KAHMI Batam tidak memiliki alumni lain yang mampu memimpin.
Saya pribadi tidak percaya dengan cara berpikir seperti itu.
Saya meyakini bahwa KAHMI Batam masih memiliki banyak alumni yang memiliki kapasitas, pengalaman, jaringan, kemampuan komunikasi dan semangat untuk membawa organisasi ini menjadi lebih baik. Hanya saja, mungkin selama ini belum diberikan ruang yang cukup untuk tampil dan menunjukkan kemampuannya.
Karena itu, menurut saya, Musda tahun ini harus menjadi kesempatan bagi kita untuk membuka ruang tersebut.
Kita juga harus melihat kondisi Amsakar saat ini. Sebagai Wali Kota Batam, tentu banyak persoalan dan tanggung jawab yang harus beliau pikirkan, baik di Pemerintah Kota Batam maupun dalam hubungan dan koordinasi dengan BP Batam. Pekerjaan sebagai kepala daerah saja sudah membutuhkan perhatian dan energi yang besar.
Jangan sampai KAHMI yang seharusnya menjadi rumah bersama para alumni HMI justru menambah beban yang harus dipikul Amsakar.
Kalau memang ada alumni lain yang siap mengurus organisasi, memiliki waktu yang cukup, punya gagasan dan mampu menjalankan roda KAHMI dengan baik, mengapa tidak kita berikan kesempatan?
Menurut saya, memberikan kesempatan kepada orang lain bukan berarti tidak menghargai Amsakar. Justru sebaliknya, itu bisa menjadi bentuk penghormatan kepada beliau yang sudah mengabdikan waktunya untuk KAHMI selama ini.
Begitu juga dengan persoalan mekanisme pemilihan.
Musyawarah mufakat tentu merupakan pilihan yang baik. Kalau memang ada satu nama yang benar-benar disepakati secara bersama karena dianggap paling mampu, tentu tidak ada persoalan dengan aklamasi.
Tetapi yang perlu kita jaga adalah jangan sampai sejak awal Musda diarahkan hanya kepada satu nama. Jangan sampai muncul anggapan bahwa karena Amsakar masih dianggap paling kuat, maka tidak perlu lagi membuka ruang bagi calon lain.
KAHMI adalah organisasi besar. KAHMI juga lahir dari tradisi intelektual HMI yang mengajarkan kita untuk berpikir kritis, terbuka dan objektif.
Maka, menurut saya, jangan sampai KAHMI Batam kehilangan keberanian untuk melahirkan kepemimpinan baru.
Lima tahun kepemimpinan Amsakar patut kita catat sebagai bagian dari perjalanan organisasi. Tetapi masa depan KAHMI tidak boleh hanya bergantung kepada satu figur.
Justru Musda harus menjadi momentum untuk membuktikan bahwa KAHMI Batam memiliki banyak kader dan alumni yang siap mengambil tanggung jawab.
Kita harus mulai mengubah cara berpikir dari pertanyaan “siapa yang paling terkenal?” menjadi “siapa yang paling siap bekerja?”
Dari pertanyaan “siapa yang paling kuat?” menjadi “siapa yang paling mampu merangkul seluruh alumni?”
Dan dari pertanyaan “siapa yang harus menjadi ketua?” menjadi “apa yang harus kita lakukan agar KAHMI Batam lima tahun ke depan menjadi lebih baik?”
Menurut saya, itulah esensi Musda.
Kita tidak perlu memaksakan Amsakar untuk kembali memimpin jika memang ada alumni lain yang lebih siap dan memiliki waktu untuk mengurus organisasi.
Amsakar sendiri sudah memberikan ruang. Tinggal bagaimana kita sebagai alumni menyikapinya dengan dewasa.
Kalau ada yang lebih siap, berikan kesempatan.
Kalau ada yang lebih mampu, mari kita pertimbangkan.
Kalau ada yang memiliki gagasan yang lebih baik untuk KAHMI Batam, jangan kita tutup ruangnya.
Dan apabila pada akhirnya melalui proses musyawarah yang objektif Amsakar kembali dipercaya, tentu keputusan itu juga harus kita hormati bersama.
Karena yang paling penting bukan siapa yang menang atau siapa yang kalah.
Yang paling penting adalah KAHMI Batam tetap menjadi rumah bersama bagi seluruh alumni HMI.
Jangan sampai kepentingan pribadi, kedekatan, kelompok atau kepentingan politik tertentu membuat kita lupa bahwa organisasi ini jauh lebih besar daripada kepentingan satu orang.
Mari kita jadikan Musda KAHMI Batam tahun ini sebagai momentum untuk berpikir lebih jernih, lebih dewasa dan lebih objektif.
Tidak perlu takut dengan munculnya calon-calon baru. Tidak perlu pula merasa bahwa tanpa satu figur tertentu KAHMI tidak akan berjalan.
KAHMI Batam masih memiliki banyak alumni yang mampu. Tinggal kita mau memberikan ruang atau tidak.
Musda bukan sekadar memilih seorang ketua.
Musda adalah tentang menentukan arah KAHMI Batam untuk lima tahun ke depan.
Karena itu, mari kita memilih bukan karena siapa orangnya, tetapi karena apa yang mampu dia lakukan untuk organisasi.
Penulis:
1. Ketua Pemuda ICMI Provinsi Kepulauan Riau
2. Mantan Ketua Umum HMI Cabang Batam Periode 2021–2022












