Menu

Mode Gelap
Santriwati Pondok Pesantren di Sleman Jadi Korban Pemerkosaan Kiainya, Kuasa Hukum Minta Polisi Usut Tuntas Enam Murid MI Sirojut Tholibin Rengaspendawa Ikuti OMI Tahun 2026 HAORNAS 2026: DARI SEREMONI MENUJU SISTEM PEMBINAAN ATLET ISIM Audiensi dengan Kemenpora RI, Dorong Kolaborasi Penguatan Karakter Pemuda Menuju Indonesia Emas 2045 Musda Perisai Demokrasi Bangsa Kota Jambi resmi di gelar, Terapkan One Man One Vote, M Zein Albi Anwar Firdaus Terpilih sebagai Formateur https://faktabatamnews.com/2026/kepri/batam/memperkuat-perlindungan-konsumen-komisi-ii-dprd-kepri-lakukan-kunjungan-kerja-dan-dukung-penuh-program-bpsk-kota-batam/

Regional

APMAALA Dorong Pemekaran Aceh Leuser Antara Jadi Solusi, Tegaskan Perdamaian Harus Dijaga

badge-check


					APMAALA Dorong Pemekaran Aceh Leuser Antara Jadi Solusi, Tegaskan Perdamaian Harus Dijaga Perbesar

Maklumatkepri.com. Jakarta-Aliansi Pemuda Mahasiswa Aceh Leuser Antara (APMAALA) menyampaikan sikap terkait dinamika Aceh yang berkembang menjelang dan setelah momentum 15 Agustus 2026. APMAALA menegaskan bahwa aspirasi masyarakat harus disalurkan melalui jalur konstitusional, sementara perdamaian dan persatuan Aceh wajib menjadi kepentingan bersama.

Koordinator Pusat APMAALA, Said Ahmad, mengatakan aspirasi pembentukan Aceh Leuser Antara perlu dibahas secara serius oleh pemerintah dengan pendekatan yang objektif, terukur, dan berbasis kepentingan masyarakat.

Menurut APMAALA, pemekaran tidak semestinya dipandang semata sebagai agenda politik, melainkan sebagai salah satu opsi kebijakan untuk menjawab persoalan pemerataan pembangunan, peningkatan pelayanan publik, representasi masyarakat, serta percepatan kesejahteraan di wilayah Aceh Leuser Antara.

“Kami mendorong pemerintah membuka ruang pembahasan yang serius terhadap aspirasi pemekaran Aceh Leuser Antara. Semua harus dilakukan melalui mekanisme konstitusional, kajian yang komprehensif, serta mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara luas,” ujar Said.

Dorong Dialog, Bukan Ketegangan

APMAALA menilai dinamika politik dan sosial di Aceh harus disikapi dengan kepala dingin. Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, DPR, tokoh masyarakat, ulama, akademisi, pemuda, dan mahasiswa dinilai perlu membangun ruang dialog yang sehat untuk mencari titik temu.

APMAALA menolak segala bentuk provokasi, hasutan, intimidasi, maupun penyebaran informasi yang berpotensi memperkeruh suasana dan membuka kembali ruang konflik di Aceh.

“Perbedaan pandangan adalah bagian dari demokrasi. Yang tidak boleh terjadi adalah perbedaan tersebut berubah menjadi konflik di tengah masyarakat,” tegasnya.

Pemekaran Harus Berbasis Kajian

APMAALA menekankan bahwa pemekaran Aceh Leuser Antara harus dibicarakan secara rasional dan tidak berhenti pada tuntutan politik. Pemerintah perlu melakukan kajian menyeluruh terhadap aspek geografis, demografis, ekonomi, sosial, pelayanan publik, kapasitas pemerintahan, hingga kemampuan fiskal.

Dengan demikian, keputusan mengenai pemekaran dapat diambil berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat, bukan semata-mata tekanan kepentingan kelompok.

APMAALA juga mendorong pemerintah tetap mempercepat pembangunan dan pelayanan publik di wilayah Aceh Leuser Antara tanpa harus menunggu proses politik pemekaran selesai.

Simbol Budaya Jangan Dijadikan Pemicu Konflik

Dalam konteks dinamika simbol budaya Aceh, APMAALA mengajak masyarakat menempatkan Bendera Alam Peudung secara bijaksana sebagai bagian dari identitas dan kebudayaan masyarakat.

Simbol budaya, menurut APMAALA, semestinya menjadi ruang ekspresi dan perekat persaudaraan, bukan alat untuk memprovokasi, mempertajam perbedaan, atau mempertentangkan masyarakat.

APMAALA Tawarkan Jalan Tengah

APMAALA menegaskan solusi yang ditawarkan bukanlah konfrontasi, melainkan dialog, kajian, pembangunan, dan konstitusi.

Pemerintah diminta tidak mengabaikan aspirasi masyarakat Aceh Leuser Antara, tetapi pada saat yang sama seluruh elemen masyarakat juga diharapkan menjaga ketertiban dan kedamaian.

“Aspirasi harus didengar, persoalan harus dikaji, pembangunan harus diperkuat, dan setiap keputusan harus ditempuh melalui jalur hukum. Kami ingin Aceh tetap damai sekaligus memperoleh solusi pembangunan yang adil,” kata Said.

APMAALA mengajak seluruh masyarakat Aceh menjaga persaudaraan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dapat memecah belah.

Aceh adalah rumah bersama. Pemekaran harus menjadi instrumen untuk menghadirkan pemerataan dan kesejahteraan, bukan alasan untuk membuka kembali konflik. (Redaksi)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Santriwati Pondok Pesantren di Sleman Jadi Korban Pemerkosaan Kiainya, Kuasa Hukum Minta Polisi Usut Tuntas

9 September 2026 - 22:43 WIB

Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Mulai Terasa di Bandar Lampung

6 September 2026 - 16:02 WIB

Gerak Cepat Regional Aceh Tangani Indikasi Alergi pada Penerima Manfaat MBG di Bener Meriah

5 September 2026 - 08:49 WIB

Pemko Padang Kembali Salurkan Seragam Sekolah Gratis, Sekolah Dilarang Jual LKS

5 September 2026 - 05:53 WIB

Universitas Paramadina Dorong Generasi Muda Cerdas Finansial dan Aman di Era Digital

3 September 2026 - 07:05 WIB

Trending di Jakarta