Maklumatkepri.com. Banyumas-Demokrasi tidak hanya tentang keberanian menyampaikan pendapat. Demokrasi juga membutuhkan kemampuan untuk mendengar, berpikir kritis, menghormati perbedaan, serta bertanggung jawab atas setiap suara yang disampaikan.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan “Ruang Terbuka Pelajar: Etika dan Moralitas Pelajar dalam Demokrasi” yang digelar oleh Sumelang Community di Hall C DPRD Banyumas, Kamis pagi (27/8/2026).

Kegiatan tersebut diikuti lebih dari 80 pelajar SMA dan SMK yang sebelumnya melakukan registrasi secara daring. Forum ini menjadi ruang bagi pelajar untuk berdialog dan memahami demokrasi secara lebih dekat, tidak hanya sebagai teori dalam pendidikan kewarganegaraan, tetapi juga sebagai praktik yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam forum tersebut, pelajar diajak memahami bagaimana menyampaikan kritik tanpa merendahkan, berbeda pandangan tanpa bermusuhan, serta menggunakan kebebasan berpendapat dengan tetap berpegang pada etika dan moralitas.
Kepala Bakesbangpol Kabupaten Banyumas, Eko Heru Surono, S.Sos., menyampaikan bahwa dialog bersama pelajar menjadi momentum penting untuk mengenalkan demokrasi sejak dini, termasuk mengenai etika dalam menggunakan kebebasan berpendapat.
Menurut Eko, pelajar memiliki hak untuk berbicara, berkumpul, berserikat, menyampaikan kritik, serta memberikan masukan kepada pemerintah. Namun, kebebasan tersebut harus disertai dengan tanggung jawab dan etika.
Ia juga mendorong pelajar agar tidak takut menyampaikan aspirasi maupun kritik terhadap pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Banyumas, kata Eko, menyediakan ruang pengaduan bagi masyarakat untuk menyampaikan persoalan maupun kritik, sepanjang identitas dan informasi yang diberikan jelas.
Di tengah perkembangan media sosial, kemampuan menggunakan kebebasan berpendapat secara bertanggung jawab menjadi semakin penting. Setiap orang kini dapat menyampaikan pendapat kepada publik dalam waktu singkat. Namun, kecepatan dalam berbicara perlu diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan mempertimbangkan dampak dari setiap informasi yang disampaikan.
Penggagas dan pegiat kepemudaan, Prabaswara Setyawan, mengatakan kegiatan Ruang Terbuka Pelajar dirancang untuk membuka perspektif pelajar mengenai bagaimana menjadi warga negara yang kritis tanpa kehilangan etika dan moralitas.
“Bagaimana pelajar ini dalam berdemokrasi, tetapi tetap dengan etika dan moralitas yang baik sebagai warga negara Indonesia,” ujarnya.
Menurut Prabaswara, Sumelang Community berupaya menghadirkan ruang yang memungkinkan pelajar menyampaikan pandangan dan aspirasi secara terbuka. Keberanian tersebut diharapkan tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi berkembang menjadi budaya partisipasi yang konstruktif.
Sementara itu, Ketua DPC Peradi SAI Purwokerto, Advokat Djoko Susanto, SH, menilai kegiatan tersebut sejalan dengan semangat organisasi advokat yang dipimpinnya, yakni keberanian menyuarakan kebenaran.
Menurut Djoko, demokrasi membutuhkan masyarakat yang berani bersuara. Namun, keberanian tersebut harus dibarengi dengan etika dan kemampuan berpikir kritis.
Ia mendorong para pelajar untuk terbiasa bersikap kritis terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitar sekaligus mampu mengaplikasikan nilai-nilai demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Djoko, keberanian menyampaikan kebenaran merupakan bagian penting dari demokrasi. Ruang publik yang sehat, menurutnya, tidak cukup hanya diisi oleh suara yang paling keras, tetapi juga membutuhkan argumentasi yang bertanggung jawab.
Forum tersebut menunjukkan bahwa pendidikan demokrasi tidak semestinya berhenti pada pemahaman tentang pemilu, lembaga negara, maupun sistem pemerintahan. Lebih jauh, demokrasi perlu membentuk karakter warga negara yang mampu berbeda pendapat tanpa bermusuhan, mengkritik tanpa menghina, dan menyampaikan aspirasi tanpa kehilangan etika.
Lebih dari 80 pelajar yang hadir dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari generasi yang mampu mengisi ruang-ruang publik secara kritis dan bertanggung jawab.
Sebab, masa depan demokrasi tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh kualitas warga negara yang berani mengawasi, berani menyampaikan kritik, mampu menghargai perbedaan, dan memahami bahwa kebebasan selalu berjalan bersama tanggung jawab.












