Maklumatkepri.com. Banda Aceh, 17 Agustus 2026 — Raja Kesultanan Peureulak ke-37, YM. Dr. Teuku Muhammad Nurdin, S.H., M.E.I., menegaskan bahwa wilayah historis Peureulak tidak sebatas kawasan Kota Peureulak saat ini, tetapi memiliki wilayah sejarah yang jauh lebih luas dan memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah Aceh, khususnya kawasan Aceh Timur.
Hal tersebut disampaikan Raja Peureulak dalam silaturahmi bersama Konsul Jenderal Malaysia di Medan, Konsul Mohammad Ridzuan, di Banda Aceh, Senin (17/8/2026). Pertemuan berlangsung dalam suasana santai sambil ngopi bersama dan turut didampingi oleh Ketua Umum PD PRIMA DMI Kota Langsa, Teuku Muhammad Al Azmi,S.Sos.

Dalam pertemuan tersebut, Raja Peureulak menjelaskan berbagai hal mengenai sejarah, adat, kebudayaan, serta eksistensi Kesultanan Peureulak sebagai salah satu kesultanan tertua di Aceh.
Raja Peureulak menekankan bahwa hubungan Aceh dan Malaysia telah terjalin sejak berabad-abad lalu.
> “Aceh dan Malaysia adalah saudara serumpun. Chemistry ini sudah terjalin sejak abad ke-16 dan bahkan jauh sebelumnya. Malaka, Kedah, Pahang, Johor, Bukit Sawar, Pinang dan berbagai wilayah lainnya memiliki hubungan sejarah yang sangat erat dengan masyarakat Aceh sejak dahulu.”
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari Konsul Jenderal Malaysia. Dalam suasana penuh keakraban, Konsul Jenderal Malaysia menyambut baik pemaparan mengenai hubungan sejarah dan kekerabatan antara Aceh dan Malaysia.
Dalam kesempatan itu, Raja Peureulak juga menyampaikan visi untuk kembali memperkuat eksistensi sejarah dan kebudayaan Peureulak serta mendorong pembangunan di bidang pendidikan dan ekonomi.
Menurutnya, Peureulak memiliki posisi penting dalam sejarah peradaban Aceh dan Asia Tenggara. Peureulak pada masa lalu dikenal sebagai salah satu pusat kebudayaan, perdagangan dan perkembangan Islam di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu bukti sejarah yang turut disampaikan adalah keberadaan situs Monisa di Paya Meuligoe, Bandar Khalifah, yang menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan Islam dan peradaban Peureulak.
Raja Peureulak menjelaskan bahwa dalam perspektif sejarah Kesultanan Peureulak, Bandar Khalifah merupakan pusat pemerintahan, sementara Paya Meuligoe menjadi salah satu kawasan penting yang berkaitan dengan pusat kerajaan dan istana Peureulak.
Lebih lanjut, Raja Peureulak menyampaikan harapannya agar hubungan antara Peureulak dan Malaysia dapat terus dikembangkan melalui komunikasi dan kerja sama yang lebih konkret.
> “Ke depan, kita ingin membangun komunikasi yang lebih kuat antara Peureulak dan Malaysia, khususnya dalam bidang pendidikan, adat dan budaya, serta ekonomi. Kita ingin sejarah tidak hanya menjadi cerita masa lalu, tetapi dapat menjadi fondasi untuk membangun masa depan.”
Pertemuan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali sejarah Peureulak kepada pihak-pihak di luar Aceh, sekaligus membuka peluang kerja sama dalam bidang pendidikan, kebudayaan dan pengembangan ekonomi berbasis sejarah.
Raja Peureulak berharap hubungan Aceh dan Malaysia sebagai bangsa serumpun dapat terus diperkuat, khususnya melalui generasi muda, sehingga sejarah, adat dan kebudayaan yang telah diwariskan selama berabad-abad dapat terus dijaga dan dikembangkan.
Silaturahmi tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat kembali jejaring sejarah dan kebudayaan Aceh dengan dunia Melayu, serta membuka ruang komunikasi yang lebih luas antara Kesultanan Peureulak dan Malaysia di masa mendatang. (Red)












