Oleh: Drs.H. Buralimar, M. Si.
Kalau di kampung kita dulu, kata “lebai” itu justru punya makna yang mulia. Lebai bukan orang sembarangan. Ia biasanya dituakan, pandai membaca doa, memahami agama, dan menjadi tempat orang kampung meminta bantuan ketika ada kenduri, akikah, selamatan rumah baru, sampai ketika ada keluarga yang berduka. Duduknya di depan, mengenakan peci, bicaranya pelan, tetapi didengar. Pokoknya, lebai adalah salah satu simbol adab, ilmu, dan kearifan kampung.

Tapi “lebay” yang kita bicarakan sekarang tentu lain lagi ceritanya. Ini lebay versi zaman sekarang: segala sesuatu dibesar-besarkan, sedikit masalah dibuat heboh, sedikit perbedaan langsung diperdebatkan, seolah-olah dunia akan kiamat kalau tidak ikut berkomentar. Padahal dalam agama, kita sudah lama diingatkan agar tidak berlebihan dalam menjalani kehidupan.
Allah berfirman, “Wa kuluu wasyrabuu wa laa tusrifuu, innahu laa yuhibbul musrifiin.” Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan. (QS. Al-A’raf: 31). Pesan itu memang berbicara tentang makan dan minum, tetapi semangatnya jauh lebih luas. Dalam berbicara, bersikap, menilai orang, menggunakan harta, bahkan dalam menyikapi persoalan, semuanya perlu ukuran. Sebab sesuatu yang baik pun bisa menjadi tidak baik ketika dilakukan secara berlebihan.
Rasulullah SAW juga mengingatkan umatnya agar menjauhi sikap ghuluw, yaitu berlebih-lebihan. Beliau mengingatkan bahwa sikap berlebihan telah menjadi salah satu sebab kebinasaan umat-umat terdahulu. Ada pula pesan yang sangat sederhana tetapi dalam maknanya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Jadi, kalau belum yakin sesuatu yang hendak kita katakan itu baik, benar, dan bermanfaat, tidak ada salahnya menahan diri. Sesekali diam sambil ngopi juga bukan dosa.
Maka, supaya hidup tidak dipenuhi drama yang sebenarnya tidak perlu, cobalah bawa santai. Bicara sesuai kenyataan. Jangan sampai kita lebih sibuk melihat kesalahan orang lain daripada memperbaiki kekurangan sendiri. Pepatah lama masih relevan: semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak kelihatan. Kesalahan kecil orang lain bisa kita lihat dari jauh, sementara kekurangan sendiri yang besar justru luput dari pandangan.
Karena itu, jangan gemar menduga-duga dan jangan menjadikan “katanya” sebagai sumber kebenaran. Di zaman ketika informasi bergerak secepat kilat, fakta harus ditempatkan di depan opini. Kalau ada persoalan, cari tahu duduk perkaranya. Kalau belum tahu, bertanya. Kalau belum yakin, jangan buru-buru menyimpulkan. Bicara dengan data dan kenyataan jauh lebih terhormat daripada berbicara dengan prasangka.
Kita juga perlu belajar menghargai apa yang telah dikerjakan orang lain. Bisa jadi ia lebih memahami medan yang sedang dihadapinya daripada kita yang hanya melihat dari kejauhan. Jangan memaksakan ukuran baju kita kepada orang lain. Belum tentu pas. Sepatu kita ukuran 43, dipaksakan ke kaki yang ukurannya 38, tentu saja sakit. Begitu juga dalam kehidupan: pengalaman, kemampuan, keadaan, dan tantangan setiap orang tidak selalu sama.
Karena itu, kerjakan saja apa yang memang bisa kita kerjakan. Tidak harus selalu besar. Yang penting bermanfaat. Sebuah kebaikan kecil yang dilakukan dengan tulus kadang jauh lebih berarti daripada kritik besar yang hanya menambah gaduh. Masyarakat tidak selalu membutuhkan orang yang pandai menunjuk kesalahan. Masyarakat lebih membutuhkan orang yang mau turun tangan dan berbuat sesuatu.
Tidak usah terlalu banyak menyalahkan orang lain, apalagi sampai menyerang pribadi. Itu bukan kelas kita. Kritik boleh, berbeda pendapat boleh, tetapi merendahkan martabat orang lain bukanlah keberanian. Di zaman sekarang, hoaks memang berlari lebih cepat daripada klarifikasi. Karena itu, tabayyun menjadi semakin penting.
Allah mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan yang akhirnya kamu menyesalinya.” Pesannya sangat jelas: jangan mudah percaya, apalagi mudah menyebarkan. Cek dulu, baru bicara. Karena sekali sebuah kabar salah beredar, permintaan maaf sering kali datang terlambat.
Sesekali kita juga perlu berhenti sejenak untuk introspeksi. Evaluasi diri bukan tanda kelemahan, justru menunjukkan kedewasaan. Imam Syafi’i dikenal dengan nasihatnya, “Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar, maka kamu harus menanggung perihnya kebodohan.” Memperbaiki diri memang melelahkan, tetapi hasilnya lebih jelas daripada sibuk menghitung kekurangan orang lain.
Jangan pula berlebihan mengurusi sesuatu yang memang bukan urusan kita dan berada di luar kendali kita. Kadang-kadang kita stres bukan karena pekerjaan sendiri terlalu berat, tetapi karena terlalu sibuk memikirkan pekerjaan orang lain. Kita ikut pusing, ikut marah, ikut kecewa, sementara orang yang kita pikirkan malah tidur nyenyak. Akhirnya yang naik bukan prestasi, tetapi tekanan darah, kolesterol, atau asam urat. Hidup sudah cukup rumit, jangan ditambah dengan urusan yang sebenarnya tidak perlu.
Belajarlah menghargai sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan orang lain. Ada nasihat orang tua yang sederhana tetapi dalam maknanya: pandailah merasa, jangan merasa pandai. Kalimat pendek itu mengajarkan kerendahan hati. Sebab orang yang benar-benar berilmu biasanya tidak merasa perlu menunjukkan bahwa dirinya paling tahu.
Kalau ingin menasihati, mengkritik, atau memberikan saran, sampaikan dengan koridor agama, adab, dan budaya. Keras tidak selalu berarti benar. Ngotot tidak otomatis membuat argumen menjadi kuat. Kadang-kadang suara yang paling tenang justru membawa pesan yang paling jauh. Kesabaran sering kali mampu menundukkan sesuatu yang tidak bisa ditaklukkan oleh kemarahan.
Dan jangan lupa, jagalah diri dan keluarga sendiri. Allah berfirman, “Quu anfusakum wa ahliikum naaraa” — jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim: 6). Ada begitu banyak hal yang harus kita benahi di dalam rumah sendiri, sehingga waktu untuk menghakimi kehidupan orang lain sebenarnya semakin sedikit.
Kita juga perlu memahami bahwa zaman berubah. Masa ketika kita muda tidak sepenuhnya sama dengan masa yang dihadapi anak-anak sekarang. Cara berpikir berubah, teknologi berubah, tuntutan hidup berubah, bahkan cara anak-anak bermain pun berubah. Dulu mungkin kita bermain gundu di halaman, sekarang anak-anak bisa menjelajah dunia dari layar telepon genggam. Tidak semua perubahan harus disukai, tetapi tidak semuanya pula harus dicaci.
Jangan terlalu banyak mengeluh. Mengeluh sesekali tentu manusiawi, tetapi kalau setiap hari yang keluar hanya keluhan, masalah tidak akan selesai. Bahkan orang-orang di sekitar kita bisa perlahan menjauh karena lelah mendengarnya. Lebih baik mengubah sebagian keluhan menjadi ikhtiar, sebagian kegelisahan menjadi doa, dan sebagian kekecewaan menjadi pelajaran.
Satu lagi yang penting: jangan menggeneralisasi persoalan. Masalah pribadi jangan dibawa seolah-olah menjadi masalah seluruh dunia. Putus cinta, misalnya, ya cukup menjadi pengalaman pribadi. Jangan karena kecewa kepada satu orang lalu berkata semua laki-laki sama atau semua perempuan sama. Itu bukan kesimpulan, itu sedang patah hati. Dan kalau sudah begitu, jangan buru-buru membuat teori tentang seluruh umat manusia. Itu baru namanya lebay.
Pada akhirnya, hidup ini memang sudah cukup berat. Jangan kita membuatnya semakin berat dengan prasangka, kemarahan, kesombongan, dan kegemaran membesar-besarkan sesuatu yang sebenarnya sederhana. Santai bukan berarti tidak peduli. Tenang bukan berarti lemah. Diam bukan berarti kalah. Dan tidak ikut ribut bukan berarti tidak punya pendirian.
Kerjakan apa yang bisa dikerjakan, perbaiki apa yang bisa diperbaiki, doakan apa yang belum mampu kita ubah, dan serahkan apa yang memang berada di luar kendali kita kepada Allah. Kalau ada yang tidak penting, tidak perlu semuanya diberi panggung. Kadang-kadang, cara paling sehat menghadapi hidup adalah tersenyum, menarik napas panjang, lalu berkata kepada diri sendiri: sudah, bawa santai saja.
Sebab hidup bukan perlombaan untuk menjadi orang yang paling benar di mata manusia. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang semakin baik di hadapan Allah. Dan dalam perjalanan itu, sedikit rendah hati, sedikit sabar, banyak tabayyun, serta tidak mudah lebay, mungkin justru membuat langkah kita jauh lebih ringan.
Batam, 20 Agustus 2026












