Oleh: Hidayatuddin
Pengurus Cabang PMII Kota Batam
Nasionalisme Indonesia hari ini sedang berada pada situasi yang tidak sederhana. Jika dahulu nasionalisme lahir dari kesadaran untuk membebaskan bangsa dari penjajahan, maka hari ini tantangannya hadir dalam bentuk yang lebih beragam. Globalisasi, perkembangan teknologi, arus informasi, perubahan budaya, kepentingan ekonomi, hingga pertarungan politik telah memengaruhi cara masyarakat melihat bangsa dan negaranya.

Karena itu, nasionalisme tidak cukup hanya diterjemahkan sebagai rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia, mengibarkan bendera merah putih, atau mengikuti upacara kenegaraan. Nasionalisme harus ditempatkan sebagai kesadaran untuk menjaga bangsa agar tetap memiliki arah, keadilan, dan martabat di tengah perubahan zaman.
Bagi kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), pembicaraan tentang nasionalisme tidak dapat dilepaskan dari Nilai Dasar Pergerakan (NDP) dan .Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Keduanya bukan sekadar materi kaderisasi yang dihafalkan untuk memenuhi kebutuhan forum, tetapi seharusnya menjadi cara pandang dalam membaca persoalan bangsa.
NDP PMII memberikan landasan bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki tanggung jawab kepada Allah, kepada sesama manusia, dan kepada kehidupan. Karena itu, perjuangan kebangsaan tidak boleh hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi harus bermuara pada kemanusiaan. Nasionalisme yang kehilangan dimensi kemanusiaan akan mudah berubah menjadi fanatisme kebangsaan. Sebaliknya, kecintaan kepada bangsa yang dibangun di atas nilai kemanusiaan akan mendorong kita untuk memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat.
Di sinilah saya melihat bahwa tantangan nasionalisme Indonesia sebenarnya bukan hanya datang dari luar negeri atau budaya asing. Tantangan yang lebih serius justru dapat muncul ketika nilai kebangsaan berhenti menjadi prinsip dan hanya menjadi simbol.
Apa artinya berbicara tentang cinta tanah air ketika masih terdapat masyarakat yang kesulitan memperoleh pendidikan yang layak? Apa artinya berbicara tentang persatuan jika perbedaan pilihan politik justru membuat masyarakat saling bermusuhan? Dan apa artinya pembangunan nasional jika pertumbuhan ekonomi tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan kesejahteraan?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini penting diajukan karena nasionalisme tidak boleh digunakan sebagai alat untuk membungkam kritik. Kritik terhadap pemerintah bukan berarti membenci negara. Justru dalam tradisi gerakan mahasiswa, kritik merupakan bentuk tanggung jawab moral untuk memastikan kekuasaan tetap berada dalam koridor kepentingan rakyat.
Dalam perspektif NDP, manusia tidak boleh ditempatkan sebagai objek pembangunan semata. Manusia memiliki martabat dan kehendak untuk menentukan masa depannya. Maka pembangunan yang mengatasnamakan kepentingan nasional seharusnya tetap menjadikan manusia sebagai pusat perhatian.
Pada saat yang sama, globalisasi menghadirkan tantangan lain terhadap identitas kebangsaan. Arus informasi yang begitu cepat membuat berbagai budaya dan gaya hidup dapat masuk tanpa batas. Anak muda hari ini dapat mengenal budaya negara lain lebih cepat daripada mengenal kebudayaan di daerahnya sendiri.
Persoalannya bukan terletak pada budaya asing yang masuk. Dunia memang terus berubah dan interaksi antarbangsa tidak mungkin dihentikan. Yang perlu diperkuat adalah kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki identitas yang kuat sehingga mampu berinteraksi dengan dunia tanpa kehilangan akar kebudayaannya.
Dalam hal ini, Aswaja memberikan cara pandang yang relevan. Prinsip tawassuth mengajarkan sikap moderat, tawazun menekankan keseimbangan, tasamuh mengajarkan penghormatan terhadap perbedaan, dan i’tidal menegaskan pentingnya keadilan. Nilai-nilai tersebut sangat relevan untuk menjawab tantangan kebangsaan hari ini.
Indonesia adalah bangsa yang dibangun dari keberagaman. Karena itu, nasionalisme tidak boleh dibangun dengan cara menyeragamkan masyarakat. Persatuan bukan berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Persatuan justru diuji ketika kita mampu hidup bersama di tengah perbedaan.
Aswaja mengajarkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling meniadakan. Dalam kehidupan kebangsaan, prinsip tersebut menjadi penting karena Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, bahasa, tradisi, dan kelompok sosial. Ketika perbedaan dikelola dengan sikap tasamuh, keberagaman dapat menjadi kekuatan. Tetapi ketika perbedaan dipelihara sebagai alat politik untuk memecah masyarakat, nasionalisme akan kehilangan maknanya.
Budaya Nusantara juga memiliki posisi penting dalam persoalan tersebut. Kebudayaan bukan sekadar pertunjukan yang ditampilkan dalam festival atau acara seremonial. Di dalam kebudayaan terdapat nilai tentang gotong royong, penghormatan kepada sesama, solidaritas, musyawarah, dan cara masyarakat menjaga hubungan dengan lingkungan.
Karena itu, mempertahankan budaya tidak berarti menolak modernitas. Kita justru perlu membawa kebudayaan Nusantara masuk ke ruang-ruang modern. Teknologi digital harus digunakan untuk memperkenalkan bahasa daerah, kesenian, sejarah lokal, kuliner, cerita rakyat, dan berbagai pengetahuan masyarakat kepada generasi baru.
Di titik ini, kader PMII memiliki ruang perjuangan yang luas. Kaderisasi tidak boleh hanya menghasilkan kader yang mampu berbicara dalam forum, tetapi juga kader yang mampu membaca realitas sosial. Seorang kader harus memiliki kemampuan untuk menghubungkan nilai keislaman, kebangsaan, ilmu pengetahuan, dan persoalan konkret masyarakat.
Kita membutuhkan nasionalisme yang kritis. Nasionalisme yang tidak mudah diprovokasi oleh isu identitas, tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk membenci kelompok lain.
Ruang digital menjadi salah satu medan penting dalam perjuangan tersebut. Hari ini opini publik dapat dibentuk hanya melalui potongan video, judul berita, atau unggahan media sosial. Informasi yang belum tentu benar dapat menyebar jauh lebih cepat daripada klarifikasi. Jika generasi muda tidak memiliki kemampuan literasi digital dan berpikir kritis, nasionalisme dapat dengan mudah diperalat untuk kepentingan tertentu.
Karena itu, penguatan nilai kebangsaan harus berjalan bersama dengan penguatan nalar kritis. Cinta tanah air tidak boleh berarti menerima semua informasi tanpa pertanyaan. Sebaliknya, mencintai bangsa berarti memiliki keberanian untuk mencari kebenaran, menguji informasi, dan menolak segala bentuk manipulasi yang dapat merusak persatuan.
Pada akhirnya, nasionalisme yang kita butuhkan adalah nasionalisme yang berakar pada kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan penghormatan terhadap keberagaman. NDP memberikan dasar agar perjuangan tidak kehilangan orientasi kemanusiaannya, sedangkan Aswaja memberikan cara untuk menghadapi perbedaan dengan sikap moderat, seimbang, toleran, dan adil.
Dalam konteks kader PMII, nasionalisme bukan sesuatu yang berada di luar gerakan. Nasionalisme justru harus menjadi bagian dari tanggung jawab pergerakan. Menjadi kader berarti memiliki tanggung jawab untuk membaca keadaan bangsa dan mengambil posisi ketika terjadi ketidakadilan.
Indonesia tidak membutuhkan generasi muda yang hanya pandai mengucapkan bahwa dirinya nasionalis. Indonesia membutuhkan generasi yang membuktikan nasionalismenya melalui tindakan: menjaga persatuan, melawan ketidakadilan, merawat kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, mengawal demokrasi, dan memastikan pembangunan tidak meninggalkan masyarakat.
Globalisasi tidak harus ditakuti. Yang harus ditakuti adalah ketika bangsa Indonesia memasuki dunia global tanpa memiliki identitas dan prinsip. Kita boleh menjadi bagian dari dunia, tetapi jangan kehilangan Indonesia dalam diri kita.
Maka, meneguhkan nilai kebangsaan pada akhirnya bukan hanya tentang bagaimana mempertahankan apa yang telah diwariskan oleh generasi terdahulu. Ia juga tentang bagaimana generasi hari ini berani menentukan Indonesia seperti apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Nasionalisme harus menjadi kesadaran yang hidup: berakar pada nilai, berpijak pada realitas, kritis terhadap kekuasaan, terbuka terhadap perubahan, dan tetap berpihak kepada kemanusiaan.












