Menu

Mode Gelap
Pemprov Kepri dan DPRD Tandatangani Nota Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Labkesmas Kepri, Infrastruktur Kesehatan untuk Memperkuat Kewaspadaan Penyakit di Daerah Kepulauan Wagub Nyanyang Apresiasi Aksi IPK Peduli Lingkungan di Pantai Vio Vio Musda KAHMI Batam: Haruskah Selalu Amsakar? Desil Warga Bisa Berubah, Wako Lis: Kartu Bima Sakti Lebih Fleksibel Maulid Nabi 1448 H, Wali Kota Lis Darmansyah Apresiasi Dedikasi Kader PKK dan Posyandu

Lampung

Guru SMK Lamsel Perkuat Strategi Hadapi Tes Kemampuan Akademik

badge-check


					Guru SMK Lamsel Perkuat Strategi Hadapi Tes Kemampuan Akademik Perbesar

Maklumatkepri.com. Lampung SelatanPersiapan menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA) terus diperkuat satuan pendidikan di Kabupaten Lampung Selatan. Salah satunya melalui In House Training (IHT) bertema “Kupas Tuntas Soal TKA, Strategi dan Persiapan Menghadapi TKA” yang digelar Rabu (2/9/2026) di Aula SMKN 1 Kalianda, Lampung Selatan.

Kegiatan yang digagas Ketua MKKS SMK Kabupaten Lampung Selatan, Drs. Kalimo, M.M., tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk memperdalam pemahaman tentang TKA sekaligus merumuskan strategi pembelajaran yang lebih efektif dalam mempersiapkan peserta didik.

IHT ini melibatkan kolaborasi tiga Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), yakni MGMP Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Kolaborasi lintas mata pelajaran ini menegaskan bahwa persiapan TKA tidak bisa dilakukan secara parsial.

Kemampuan yang dibutuhkan peserta didik saling berkaitan, mulai dari literasi, pemahaman informasi, penalaran hingga kemampuan memecahkan masalah. Salah satu narasumber, Risky Robbyyansah, M.Pd., dari bidang Bahasa Indonesia, mengajak guru melihat TKA tidak sekadar sebagai kumpulan soal yang harus dikerjakan berulang-ulang.

“TKA bukan sekadar tentang bagaimana peserta didik menemukan jawaban yang benar. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana mereka memahami informasi, mengolah informasi, menganalisis, menarik simpulan, dan menggunakan penalaran untuk menentukan jawaban yang paling tepat,” jelas Risky.

Menurutnya, karakteristik asesmen yang terus berkembang menuntut perubahan dalam cara guru mempersiapkan peserta didik. Latihan soal tetap diperlukan, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya strategi.
Latihan harus menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membangun kemampuan berpikir.

“Kalau kita hanya mengejar jumlah latihan soal, peserta didik mungkin terbiasa dengan pola tertentu. Namun, ketika bentuk soalnya berubah, mereka bisa mengalami kesulitan. Karena itu, yang harus kita bangun adalah kemampuan berpikirnya,” ujarnya.

Dari Sekadar Menjawab ke Kemampuan Bernalar

Dalam sesi Bahasa Indonesia, peserta diajak mendalami kemampuan memahami dan menganalisis informasi dalam teks. Guru dilatih mencermati tuntutan soal, mulai dari menemukan informasi tersurat, menyimpulkan informasi tersirat, menganalisis hubungan antargagasan, mengevaluasi informasi hingga menentukan jawaban berdasarkan bukti dalam teks.

Kemampuan membaca dalam TKA, kata Risky, tidak berhenti pada aktivitas membaca lalu mencari jawaban. Peserta didik harus mampu membaca secara kritis dan menggunakan informasi yang diperoleh untuk mengambil keputusan.

“Peserta didik perlu kita biasakan untuk bertanya: informasi apa yang diberikan, apa yang dapat disimpulkan, apa buktinya, dan mengapa pilihan jawaban tertentu lebih tepat daripada pilihan lainnya. Jadi, kita sedang membangun kebiasaan berpikir, bukan sekadar kebiasaan menjawab soal,” katanya.

Pola berpikir tersebut menjadi titik temu antara Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika. Ketiganya memiliki karakteristik materi yang berbeda, tetapi sama-sama berperan dalam membangun literasi dan penalaran peserta didik.

Bahasa Indonesia menguatkan kemampuan memahami, menginterpretasi, dan mengevaluasi informasi. Bahasa Inggris memperkuat kemampuan literasi dalam konteks bahasa Inggris. Sementara Matematika mengembangkan penalaran dan kemampuan memecahkan masalah.

Karena itu, keberhasilan peserta didik menghadapi TKA bukan hanya tanggung jawab satu mata pelajaran. Guru dari berbagai bidang dapat saling mendukung untuk menciptakan pembelajaran yang mendorong peserta didik berpikir kritis, memahami persoalan, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi.

Melalui IHT tersebut, para guru tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai karakteristik dan pola soal TKA, tetapi juga wawasan mengenai strategi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas. Pembelajaran diharapkan semakin diarahkan pada penguatan literasi, numerasi, penalaran kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Bagi Risky, persiapan menghadapi TKA idealnya tidak dimulai ketika peserta didik sudah berhadapan dengan lembar soal. Persiapan itu justru dimulai dari proses pembelajaran sehari-hari.

“Persiapan TKA sebenarnya dimulai dari ruang kelas. Ketika setiap hari peserta didik dibiasakan membaca dengan kritis, memahami persoalan, mencari bukti, menghubungkan informasi, dan memberikan alasan atas jawabannya, pada saat itulah kita sedang mempersiapkan mereka menghadapi TKA,” tegasnya.

Guru Terus Belajar dan Berkolaborasi

Semangat tersebut sejalan dengan tujuan IHT yang tidak semata-mata mengejar hasil asesmen, tetapi juga mendorong peningkatan kualitas proses pembelajaran.

Ketua MKKS SMK Kabupaten Lampung Selatan, Drs. Kalimo, M.M., melalui kegiatan ini mendorong semakin kuatnya kerja sama dan kolaborasi antarguru maupun antarmata pelajaran.

Sinergi tersebut diharapkan menjadi kekuatan bersama dalam meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mempersiapkan peserta didik SMK menghadapi tuntutan akademik yang semakin kompleks.

Pada akhirnya, kegiatan di Aula SMKN 1 Kalianda itu bukan sekadar forum untuk “mengupas soal TKA”, tetapi juga momentum untuk mengupas kembali cara guru mempersiapkan peserta didik.

Sebab, menghadapi TKA bukan hanya soal berapa banyak soal yang mampu dijawab. Lebih dari itu, TKA menjadi bagian dari proses untuk menguatkan kemampuan peserta didik dalam memahami, menalar, menganalisis, dan mengambil keputusan.

Dengan kolaborasi MGMP Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika serta dukungan MKKS SMK Kabupaten Lampung Selatan, persiapan menghadapi TKA diharapkan menjadi gerakan bersama.

Dimulai dari guru yang terus belajar dan berkolaborasi, hingga lahir pembelajaran yang tidak hanya membuat peserta didik siap menjawab soal, tetapi juga siap berpikir. (Red)

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Mulai Terasa di Bandar Lampung

6 September 2026 - 16:02 WIB

Heboh! Oknum Dosen UIN Raden Intan Lampung Diduga Digerebek Istri Saat Bersama Wanita Lain

5 September 2026 - 06:45 WIB

BPK Temukan Kekurangan Volume Rp625,77 Juta pada Proyek Jaringan Listrik RSUDAM

5 September 2026 - 06:40 WIB

Panen Raya Lumbung Pangan Baznas Pesawaran, Dorong Zakat Produktif dan Kemandirian Petani

3 September 2026 - 23:35 WIB

Tanggamus Masuk 30 Daerah Program LSDP, Pemkab Usulkan TPST Pungkut Berkapasitas 100 Ton per Hari

3 September 2026 - 23:29 WIB

Trending di Lampung