Menu

Mode Gelap
Pemprov Kepri dan DPRD Tandatangani Nota Kesepakatan Perubahan KUA-PPAS APBD 2026 Labkesmas Kepri, Infrastruktur Kesehatan untuk Memperkuat Kewaspadaan Penyakit di Daerah Kepulauan Wagub Nyanyang Apresiasi Aksi IPK Peduli Lingkungan di Pantai Vio Vio Musda KAHMI Batam: Haruskah Selalu Amsakar? Desil Warga Bisa Berubah, Wako Lis: Kartu Bima Sakti Lebih Fleksibel Maulid Nabi 1448 H, Wali Kota Lis Darmansyah Apresiasi Dedikasi Kader PKK dan Posyandu

Jambi

Indonesia Merdeka atau Indonesia Mereka? Setahun Kemudian, Pertanyaan Itu Masih Ada

badge-check


					Indonesia Merdeka atau Indonesia Mereka? Setahun Kemudian, Pertanyaan Itu Masih Ada Perbesar

Oleh: Marshanda Putri Irliadurrah, M.Pd.
Aktivis Perempuan & Tenaga Pendidik

Pada 2025, ketika Republik Indonesia genap berusia 80 tahun, sebuah pertanyaan pernah diletakkan di hadapan bangsa:

Indonesia Merdeka atau Indonesia Mereka?

Kini, setahun kemudian, pada 2026, Indonesia memasuki usia 81 tahun. Angka bertambah, zaman bergerak, pembangunan terus berjalan. Namun pertanyaan itu belum selesai. Bukan karena Indonesia tidak berubah, melainkan karena kemerdekaan selalu layak diperiksa: siapa yang benar-benar merasakannya?

“81—>delapan dan satu”

Dalam sebuah kiasan sederhana, delapan dapat dibayangkan sebagai manusia yang tampak berisi, sementara satu adalah manusia yang masih kurus. Ia seperti cermin kecil bagi wajah negeri: Indonesia semakin besar dalam angka, pembangunan dan teknologi terus berkembang, tetapi belum seluruh rakyat merasakan “isi” kemerdekaan dengan kadar yang sama.

Masih ada yang berlimpah kesempatan, sementara sebagian lainnya masih berjuang memperoleh pendidikan yang layak, pelayanan kesehatan, pekerjaan yang bermartabat, keadilan, dan kesejahteraan.

Maka pertanyaannya kembali mengetuk:

INDONESIA MERDEKA UNTUK SIAPA?

Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan adalah ketika manusia terbebas dari keadaan yang merampas martabatnya.

Ia seharusnya terasa ketika seorang anak dapat belajar tanpa dibatasi keadaan ekonomi; ketika guru dan dosen dapat mendidik dengan layak, terlindungi, dan dihargai; ketika tenaga kesehatan bekerja dengan aman dan manusiawi; ketika hukum berdiri tanpa memandang status; dan ketika setiap warga memiliki kesempatan yang adil untuk menentukan masa depannya.

Indonesia pada 2026 terus bergerak dan berbagai kebijakan pendidikan serta kesehatan terus diperkuat. Namun kemajuan tidak boleh membuat bangsa lupa bahwa pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah. Guru dan dosen adalah penjaga nalar dan pembentuk peradaban. Tenaga kesehatan adalah penjaga kehidupan. Maka membangun pendidikan dan kesehatan tidak cukup dengan membangun fasilitas; manusia yang menghidupkan keduanya juga harus dijaga kesejahteraan, perlindungan, dan martabatnya.

Kritik terhadap keadaan bangsa bukanlah kebencian kepada negara. Kritik adalah bentuk kepedulian agar cinta kepada Indonesia tidak berubah menjadi kepatuhan yang membisu. Pemerintah memiliki tanggung jawab, tetapi masyarakat, akademisi, pendidik, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan seluruh warga negara juga memiliki peran dalam menentukan wajah negeri ini.

Di tengah perjalanan itu, Pancasila harus menjadi laku, bukan sekadar hafalan.

Ketuhanan harus melahirkan toleransi dan akhlak.
Kemanusiaan harus menjaga martabat.
Persatuan harus merawat keberagaman.
Kerakyatan harus memastikan suara rakyat didengar.
Keadilan sosial harus memastikan pembangunan tidak hanya dinikmati oleh mereka yang telah memiliki kesempatan.

Pancasila tidak kekurangan tempat untuk dibacakan; yang dibutuhkan adalah lebih banyak ruang untuk diwujudkan.

Begitu pula Indonesia Emas 2045. Ia tidak boleh berhenti sebagai slogan. Indonesia Emas harus lahir dari manusia Indonesia yang terdidik, sehat, produktif, berkarakter, berintegritas, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap memiliki kepekaan terhadap sesama.

Indonesia yang maju tidak boleh kehilangan kemanusiaannya.

Perempuan pun harus hadir sebagai bagian dari kekuatan perubahan bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki ruang untuk belajar, bekerja, memimpin, bersuara, dan menentukan masa depan bangsa. Sebab bangsa tidak akan mencapai kemajuan dengan membatasi sebagian dari potensinya sendiri.

Maka pertanyaan “Indonesia Merdeka atau Indonesia Mereka?” bukanlah tuduhan kepada siapa pun. Ia adalah cermin bagi seluruh bangsa.

Jika masih ada rakyat yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, kesehatan yang adil, pekerjaan yang bermartabat, perlindungan hukum, dan kesempatan hidup yang setara, maka perjuangan kemerdekaan belum selesai.

Dulu kemerdekaan diperjuangkan dengan keberanian dan senjata. Hari ini, perjuangan diteruskan melalui ilmu, integritas, keberanian berpikir, kerja nyata, kepedulian, dan keberpihakan kepada keadilan.

Sebab penjajahan hari ini tidak selalu datang dari luar. Ia dapat tumbuh dalam bentuk ketimpangan, kebodohan, kemiskinan, diskriminasi, korupsi, dan ketidakpedulian.

Maka di usia 81 tahun, Indonesia tidak hanya membutuhkan perayaan yang meriah, tetapi kemerdekaan yang semakin nyata yang terasa di ruang kelas, kampus, rumah sakit, desa, tempat kerja, ruang publik, dan terutama dalam kehidupan rakyat.

Semoga menuju INDONESIA EMAS 2045, angka 81 menjadi pengingat bahwa pertumbuhan harus berjalan bersama pemerataan; kemajuan bersama keadilan; dan pembangunan bersama kemanusiaan.

Jangan sampai delapan manusia yang tampak “berisi” berdiri di hadapan satu manusia yang masih “kurus”.

Sebab kemerdekaan yang utuh adalah ketika tidak ada satu pun manusia Indonesia yang merasa tertinggal dari makna kemerdekaan.

Setahun setelah pertanyaan itu pertama kali ditulis, jawabannya mungkin belum sempurna. Tetapi harapan tidak boleh berhenti hanya karena pekerjaan rumah belum selesai.

Indonesia harus terus menjadi rumah bersama.

Rumah yang tidak hanya megah dari luar, tetapi layak dihuni oleh seluruh penghuninya.

Rumah yang tidak hanya kuat fondasinya, tetapi adil dalam membagi ruang.

Rumah yang tidak hanya membanggakan sejarahnya, tetapi berani memperbaiki masa depannya.

Dan pada akhirnya, semoga pertanyaan itu suatu hari tidak lagi menjadi kegelisahan:

Indonesia Merdeka atau Indonesia Mereka?

Melainkan menjadi sebuah keyakinan:

Indonesia adalah milik seluruh rakyatnya.

Bukan Indonesia mereka.

Melainkan Indonesia kita.

Indonesia untuk semua.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.

Merdeka bukan akhir dari perjuangan.
Merdeka adalah tanggung jawab untuk memastikan kemerdekaan benar-benar dirasakan oleh seluruh rakyat.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Polda Jambi Pecat 5 Polisi di Kasus Kematian Brigadir EWS

8 Agustus 2026 - 14:32 WIB

Era Baru GMPK Jambi: Gita Puspita Sari Terpilih sebagai Ketua DPD, Siap Perkuat Kaderisasi dan Semangat Kebangsaan

8 Juli 2026 - 08:54 WIB

Ardiansah P, Terpilih Kembali Menjadi Ketua Umum Prima DMI Provinsi Jambi Masa Khidmat 2026-2030

15 Juni 2026 - 21:08 WIB

IAEI Jambi Resmi Dilantik, Dr. Rafidah Ajak Semua Pihak Bangun Kekuatan Baru Ekonomi Syariah Daerah

3 Juni 2026 - 13:57 WIB

Ekonomi Syariah Jambi Bersiap Naik Kelas, Dr. Rafidah Siap Kawal UMKM dan Industri Halal

3 Juni 2026 - 13:53 WIB

Trending di Daerah