Maklumatkepri.com. Jakarta-Hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Joko Widodo kembali menjadi perhatian. Kali ini, posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ikut berada di tengah pembacaan politik yang mengarah pada persiapan menuju Pemilu 2029.
Pengamat politik Rocky Gerung menilai hubungan Prabowo, Jokowi, dan Gibran tidak cukup dilihat sebagai relasi antara presiden, wakil presiden, dan mantan presiden. Ada kalkulasi politik jangka panjang yang dinilai ikut memengaruhi sikap masing-masing tokoh.

Dalam diskusi yang disiarkan Total Politik, Rocky menyinggung aktivitas Jokowi setelah meninggalkan Istana. Menurut dia, safari politik dan kunjungan Jokowi ke berbagai daerah dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan pengaruh sekaligus menjaga ruang politik bagi Gibran.
Rocky bahkan mengaitkan masa depan politik Gibran dengan posisi Jokowi setelah tidak lagi menjadi presiden. Ia menilai keberhasilan Gibran melanjutkan karier politik hingga posisi tertinggi dapat menjadi faktor penting bagi keamanan politik keluarga Jokowi.
“Jokowi berkepentingan Gibran punya masa depan politik yang kuat,” kata Rocky, dikutip Minggu, 6 September 2026.
Pembacaan tersebut kemudian berkembang menjadi spekulasi mengenai hubungan politik antara kubu yang diasosiasikan dengan Solo dan lingkaran Hambalang. Setiap pertemuan, gestur, hingga posisi dalam agenda kenegaraan pun ikut diamati publik.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan tata letak tempat duduk dalam sejumlah kegiatan resmi. Meski pengaturan protokoler memiliki alasan tersendiri, detail tersebut tetap memunculkan spekulasi mengenai kedekatan maupun dinamika hubungan Prabowo dan Gibran.
Bagi Rocky, persoalannya bukan sekadar posisi duduk. Gestur politik dapat menjadi pesan yang dibaca publik, terutama ketika tiga tokoh tersebut memiliki kepentingan politik yang saling berkaitan.
Prabowo sendiri menghadapi situasi yang tidak sederhana. Pemerintahannya harus menjaga stabilitas politik saat kalkulasi menuju 2029 mulai muncul.
Hubungan dengan Jokowi dan Gibran pun tidak hanya menyangkut persoalan personal, tetapi berpotensi memengaruhi persepsi publik terhadap pemerintahan.
Rocky menilai setiap kubu memiliki perhitungan masing-masing. Prabowo disebut harus mempertimbangkan konsekuensi politik apabila terus dikaitkan dengan warisan kekuasaan sebelumnya.
“Semua pihak tentu menghitung dampak politik dan elektoralnya,” ujar Rocky.
Dinamika Prabowo, Jokowi, dan Gibran akhirnya menjadi salah satu gambaran bahwa pertarungan politik 2029 sudah mulai terbentuk sejak jauh hari.
Namun, apakah hubungan ketiganya benar-benar sedang mengalami tarik-menarik kepentingan atau hanya menjadi tafsir publik, masih membutuhkan perkembangan politik berikutnya.
Untuk saat ini, satu hal terlihat jelas: setiap langkah Jokowi, Prabowo, maupun Gibran semakin mudah menjadi bahan pembacaan politik. (Red)












